• February 21, 2024

Self-Deprecation, Merendahkan Diri dalam Balutan Humor

Pernahkah kamu menemui orang yang sering merendahkan, meremehkan, dan mencela dirinya sendiri dengan candaan? Sebagai contoh, tercetus pernyataan, “aku memang payah”, “aku tidak hebat, semua orang juga bisa melakukannya”, “aku bukan hebat, hanya hoki saja”, “aku tidak pintar, hanya faktor keberuntungan.”

menerapkan Self-Deprecation
Foto: Pexels.com

Ternyata tindakan tersebut termasuk kategori self-talk negatif. Hal ini sejalan dengan pernyataan Susan A. Speer, Psikolog Inggris, dalam kajian British Journal of Social Psychology tahun 2019, bahwa self-deprecation adalah bentuk self-talk yang mencerminkan keadaan kognitif yang rendah dan berkorelasi pada evaluasi diri yang konteksnya negatif.

Bagaimana Self-Deprecation Muncul di Masyarakat?

Self-deprecation merupakan pernyataan berisi candaan yang secara tidak langsung merendahkan atau meremehkan diri sendiri. Hal ini dinilai wajar di masyarakat karena sudah banyak orang sengaja melakukannya agar diterima dan menyatu dengan situasi sosial yang kian dinamis. Seseorang ingin diterima secara wajar dan tidak kehilangan teman karena kesenjangan prestasi ataupun kemampuan.

Faktor penggunaan media sosial juga sangat memengaruhi karena cenderung membandingkan diri dengan pencapaian orang lain, sehingga berpikir banyak orang lebih hebat dan dirinya tidak berdaya. Bahkan, terkadang pencapaiannya dinilai biasa dan tidak perlu diapresiasi.

Tanda Self-Deprecation

Seseorang yang mengalami self-deprecation dapat diketahui melalui beberapa tanda. Pertama, tidak dapat menerima pujian. Ini dilakukan untuk menghindari kesan “tidak enak” karena pujian orang lain, maka ia lebih memilih merendahkan diri sendiri sebagai respon terhadap pujian tersebut.

Kedua, menganggap diri sendiri tidak berarti. Merendahkan diri hampir menjadi kebiasaan yang terus menerus dilakukan hingga membentuk sistem yang memengaruhi kerja otak. Akibatnya, orang dengan self-deprecation sering menilai dirinya tidak berarti.

Ketiga, ketakutan dinilai sombong. Pada dasarnya, setiap orang menyadari prestasi dan pencapaian. Akan tetapi, beberapa orang takut mengakuinya di hadapan orang lain.

Bagaimana Dampak Buruknya?

Self-deprecation sengaja dilakukan untuk mencairkan suasana. Akan tetapi, jika terus menerus dilakukan akan berdampak pada kesehatan mental dan pengambilan keputusan.

Tindakan self-deprecation memengaruhi harga diri karena seseorang cenderung merendahkan dirinya untuk menjaga hubungan dengan orang lain. Kurangnya apresiasi diri ini juga membatasi aktualisasi diri. Selain itu, perilaku ini juga bisa menimbulkan kecemasan dan depresi karena menahan diri untuk tidak membanggakan pencapaian.

Selanjutnya, energi positif dan perasaan optimis akan menghilang. Meremehkan diri sendiri tidak sehebat orang lain, tentu memengaruhi semangat dalam diri. Kondisi ini akan mengubah cara berpikir dalam pengambilan keputusan kedepannya.

Setelah mengetahui betapa meruginya sikap tidak menghargai kemampuan diri sendiri, kamu bisa melakukan beberapa cara berikut untuk mencegah sikap self-deprecation.

Self-Deprecation
Foto Freepik.com

Menerima Pujian

Saat orang lain memberikan pujian karena pencapaianmu, cobalah ucapkan terima kasih. Menerima pujian akan membuatmu nyaman dan bangga pada kerja keras diri sendiri. Inilah fakta dan kesempatanmu untuk dikenal sebagai pribadi yang positif.

Meningkatkan Rasa Percaya Diri

Rasa percaya diri dapat dibangun untuk menghilangkan self-deprecation. Kamu perlu menyadari kelebihan dan keberadaanmu yang berarti. Setiap hal positif yang dilakukan dan pencapaian yang diraih memang perlu diapresiasi, setidaknya oleh diri sendiri dan orang terdekat.

Selalu Berpikir Positif

Berpikir positif akan membuat hati dan pikiran lebih tenang. Rasa rendah diri dan tidak berharga akan memudar jika Sahabat Sehat mampu membangun afirmasi positif pada diri sendiri. Setiap orang pasti mempunyai kesempatan yang sama untuk berhasil. Jadi, kamu akan menghargai proses dan menghargai setiap hal yang dilakukan.

Cobalah menghargai diri sendiri agar tidak mudah merendahkan diri. Bergabunglah di lingkungan positif yang menghargaimu dan membantumu berproses menjadi lebih baik. Seiring berjalannya waktu, pikiran negatif akan hilang dan kamu akan sadar betapa berharganya dirimu, namun tetap rendah hati dan bukan rendah diri.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

About the Author

Yuan Adelintang Kurniadita

Saya adalah mahasiswi Magister Sains Manajemen, UGM, dan sudah berpengalaman sebagai content writer freelance.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *