• February 21, 2024

Segala Hal yang Perlu Diketahui Seputar Kanker Serviks

Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah salah satu jenis kanker yang paling umum menyerang wanita di seluruh dunia. Pada tahun 2020 saja, terdapat kasus kanker serviks baru mencapai 36,633 kasus di Indonesia.

Penyakit kanker serviks bisa disembuhkan dengan penanganan yang tepat serta deteksi sedari dini. Simak pembahasan dari Bumame berikut!

Apa Itu Kanker Serviks?

Kanker serviks adalah penyakit yang memunculkan sel-sel abnormal di jaringan leher rahim. Kumpulan sel ini tumbuh pada leher rahim secara tak terkendali. Jika dibiarkan dan tidak diobati, sel kanker dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Kanker serviks biasanya disebabkan oleh infeksi virus yang disebut human papillomavirus (HPV).

Jenis Kanker Serviks

Kanker leher rahim dibagi menjadi dua jenis:

1. Karsinoma Sel Skuamosa (KSS)

Jenis kanker serviks ini bermula dari sel-sel tipis dan datar (sel skuamosa) yang melapisi bagian luar leher rahim serta membentang ke dalam vagina. Kanker serviks karsinoma sel skuamosa merupakan jenis kanker serviks yang paling sering terjadi.

2. Adenokarsinoma

Jenis kanker serviks adenokarsinoma dimulai dari sel-sel kelenjar berbentuk kolom yang melapisi saluran serviks.

Stadium Kanker Serviks

Kanker leher rahim mulai berkembang dari stadium awal ke stadium yang lebih lanjut. Pembagian stadium yang ada terbagi menjadi:

  • Stadium 1: Sel kanker hanya ada di leher rahim.
  • Stadium 2: Sel kanker berhasil menyebar ke ⅔ bagian atas vagina atau jaringan di sekitar rahim.
  • Stadium 3: Kanker telah menyebar ke ⅓ bagian bawah vagina atau dinding panggul, dan kelenjar getah bening.
  • Stadium 4: Kanker menyebar ke luar panggul, contohnya ke lapisan rektum, kandung kemih, atau area lain.

Apa Penyebab Kanker Serviks?

Seperti yang disebutkan sebelumnya, kebanyakan kasus kanker leher rahim disebabkan oleh human pavillomavirus (HPV). HPV yang menyebabkan kanker hanya terdiri dari beberapa jenis tertentu. Sisanya, infeksi HPV tidak menimbulkan masalah atau penyakit serius seperti kanker.

National Cancer Institute di Amerika Serikat menjelaskan terdapat dua jenis HPV yang paling berisiko menyebabkan kanker, yakni HPV 16 dan HPV 18.

Orang yang Berisiko Terkena Kanker Serviks

Penyakit kanker leher rahim sangat berisiko bagi beberapa orang dengan kondisi kesehatan atau pola hidup tertentu. Orang yang berpeluang tinggi mengidap kanker serviks antara lain:

1. Terpapar HPV

Human papillomavirus bisa menyebar melalui hubungan seksual atau sentuhan langsung dengan penderita. Seseorang juga bisa tertular virus ini jika tidak sengaja menyentuh permukaan yang terpapar HPV.

2. Perokok

Merokok dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks. Zat-zat beracun dalam asap rokok dapat merusak sel-sel di leher rahim dan memicu pertumbuhan sel-sel kanker.

3. Sistem Imun Tubuh Lemah

Kekebalan tubuh yang lemah dapat menjadi celah untuk HPV berkembang dalam tubuh dan akhirnya meningkatkan risiko kanker leher rahim. Sistem kekebalan tubuh yang lemah dapat terjadi pada individu dengan kondisi medis tertentu, seperti infeksi HIV/AIDS atau setelah transplantasi organ.

4. Terlalu Dini Berhubungan Seksual

Melakukan hubungan seksual sebelum usia 18 tahun dan memiliki banyak pasangan seksual membuat seorang wanita berisiko lebih tinggi terkena infeksi HPV dan klamidia.

5. Riwayat Keluarga

Faktor genetik dapat mempengaruhi seseorang rentan untuk terinfeksi kanker serviks. Jika ada anggota keluarga yang telah didiagnosis dengan kanker serviks, maka anggota keluarga lainnya bisa lebih berisiko terkena kanker.

Gejala Kanker Serviks

Kanker serviks tidak menunjukkan gejala pada stadium awal. Gejala baru ditunjukkan ketika kanker sudah memasuki stadium lebih lanjut. Akan tetapi, ada beberapa gejala umum kanker serviks:

  1. Perdarahan tidak normal di periode menstruasi, setelah berhubungan seksual, atau terjadi setelah menopause.
  2. Keputihan berlebihan, berbau tidak sedap, atau berwarna tidak normal.
  3. Nyeri panggul tanpa sebab dan berkelanjutan.

Apabila kanker leher rahim sudah menyebar sampai ke jaringan atau organ terdekat, gejala yang bisa akan ditunjukkan adalah:

  • Merasa nyeri ketika buang air kecil, terkadang mengeluarkan urin disertai dengan darah
  • Diare dan BAB berdarah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Berat badan menurun
  • Sakit punggung dan bengkak pada kaki

Diagnosis

Untuk memastikan apakah gejala yang dialami oleh seseorang merupakan kanker atau bukan, dibutuhkan diagnosis yang tepat. Inilah beberapa diagnosa yang bisa dilakukan untuk mendeteksi kanker leher rahim:

1. Pap Smear

Metode pap smear berguna untuk mendeteksi keberadaan sel kanker di dalam leher rahim. Pemeriksaan dilakukan dengan mengambil sampel jaringan menggunakan alat khusus yang bernama spekulum. Setelah sampel diambil, sampel akan diperiksa ke lab untuk penelitian lebih lanjut.

2. HPV DNA Test

Selanjutnya ada metode menggunakan tes HPV DNA yang bertujuan mendeteksi DNA dari human papillomavirus dalam tubuh. Sampel yang digunakan untuk pengujian bisa menggunakan sampel dari swab serviks atau cairan urin.

HPV DNA menjadi satu-satunya tes yang dapat mendeteksi HPV sebelum terjadinya lesi prakanker (jaringan abnormal yang berpotensi menjadi tumor). Itulah sebabnya skrining HPV DNA merupakan metode tes yang paling disarankan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan World Health Organization (WHO).

3. IVA Test

Metode pemeriksaan terakhir adalah visual inspection with acetic acid atau IVA test. Pemeriksaan ini menggunakan cairan khusus yang dioleskan pada bagian serviks. Dokter akan memperhatikan apakah ada perubahan warna pada serviks setelah pemberian cairan tersebut.

Perubahan warna pada leher rahim menjadi memutih saat terkena cairan adalah indikasi awal keberadaan jaringan abnormal pada leher rahim yang menjadi awal kanker.

Hasil tes yang menunjukkan terdapat sel kanker harus diperhatikan lebih lanjut. Suspek akan diarahkan untuk memeriksakan diri ke spesialis onkologi ginekologi supaya mendapat pemeriksaan serta penanganan lebih mendalam.

Pengobatan

Semakin dini penanganan kanker serviks, maka semakin besar pula peluangnya untuk sembuh. Pengobatan dan treatment yang diberikan tergantung seberapa jauh stadium kanker.

Inilah jenis penanganan kanker serviks yang paling umum:

1. Operasi

Melakukan operasi adalah cara yang bisa dilakukan untuk mengobati kanker serviks, khususnya bila kanker ditemukan pada tahap awal.

Tim dokter akan memotong atau menghilangkan bagian pada rahim yang sudah terinfeksi dengan kanker. Penyembuhan pasca operasi sangat bervariatif tergantung bagian pemotongan yang dilakukan serta proses selama operasi.

2. Kemoterapi

Metode pengobatan kemoterapi menggunakan obat yang digunakan untuk membunuh sel kanker. Obat masuk ke dalam tubuh melalui injeksi atau obat minum. Terkadang kedua cara tersebut pun seringkali dikombinasikan.

3. Radiation Therapy

Selain operasi dan kemoterapi, ada juga pengobatan melalui radioterapi yang menggunakan sinar x ray yang digunakan untuk pengobatan. Radioterapi juga bisa diberikan pasca operasi kanker untuk mencegah kanker tumbuh kembali.

4. Targeted Therapy

Terapi tertarget menggunakan obat khusus yang didesain untuk menghancurkan sel kanker tertentu tanpa merusak sel yang sehat. Obat akan menargetkan protein yang mengontrol pertumbuhan sel kanker.

5. Imunoterapi

Sistem kekebalan tubuh terkadang tidak menyerang sel kanker, sebab sel kanker menghasilkan protein yang membuatnya tidak terdeteksi oleh sistem imun tubuh.

Metode imunoterapi akan digunakan pada kasus seperti ini. Sebuah obat akan digunakan agar merangsang sistem kekebalan untuk mengenali dan menghancurkan sel kanker.

Apakah Kanker Serviks Bisa Sembuh?

Dengan perawatan dan pengobatan yang tepat, penyakit kanker serviks bisa disembuhkan. Dokter menganggap seseorang sembuh ketika kanker mulai menghilang selama pengobatan dan tidak muncul.

Meski begitu, sulit untuk mengetahui dengan pasti bahwa kanker tidak akan pernah kembali lagi. Terdapat istilah “periode remisi” untuk mengelompokkan fase penyembuhan kanker.

Periode remisi sendiri terbagi menjadi dua, yakni remisi parsial dan remisi lengkap. Remisi parsial berarti ada sedikit tanda dan gejala kanker yang tersisa. Sedangkan dalam remisi lengkap tidak ada sama sekali tanda-tanda kanker yang terdeteksi.

Seseorang bisa dikatakan sembuh dari kanker jika berada dalam periode remisi lengkap selama 5 tahun atau lebih.

Pencegahan Kanker Serviks

Kanker bisa dicegah dengan cara yang cukup mudah. Kamu perlu menjaga pola hidup sehat mulai dari rutin berolahraga serta makan sayur dan buah-buahan. Sebisa mungkin hindarilah asap rokok atau mulai mencoba untuk berhenti merokok.

Karena HPV merupakan faktor penyebab kanker serviks yang paling besar, disarankan pula bagi tiap orang untuk menghindari berganti-ganti pasangan. Mengingat HPV bisa menular dengan mudah lewat hubungan seksual.

Pemberian vaksin HPV dapat membantu melindungi terhadap infeksi HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks. Pemberian vaksin direkomendasikan untuk anak perempuan usia 9-12 tahun, tetapi dapat pula diberikan kepada orang dewasa jika belum divaksinasi.

Perempuan juga sangat disarankan untuk menjalani skrining HPV DNA secara rutin untuk deteksi dini kanker leher rahim. Sebab, kanker jenis ini nyaris tidak mudah dideteksi gejala awalnya. Sehingga penanganan yang diberikan bisa lebih optimal dan berhasil.

Lakukan pemeriksaan HPV DNA hanya di Bumame! Skrining HPV DNA bersifat non invasif. Kamu bisa melakukan pemeriksaan secara mandiri. Jadi, pemeriksaan bisa disesuaikan dengan kenyamanan masing-masing orang dan bisa dilakukan di rumah dengan layanan Home Care Bumame.

Layanan Home Care dapat memudahkanmu menjalani pemeriksaan tanpa keluar rumah. Tak hanya itu, kamu dapat berkonsultasi dengan dokter sebelum menjalani tes tanpa dipungut biaya alias gratis!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *