• February 21, 2024

Kanker Usus Besar: Gejala, Diagnosis, dan Pencegahannya

Kanker usus besar, juga dikenal sebagai kanker kolorektal, merupakan salah satu penyakit kanker yang paling mematikan di dunia. Data yang dilansir dari Globocan menyebutkan bahwa total kasus kanker usus besar di Indonesia mencapai 34,189 pada tahun 2020, dengan kematian pada kasus kanker usus besar berkisar 9,444.

Pengetahuan yang mumpuni terkait kanker usus besar bisa mengurangi jumlah kematian serta meningkatkan potensi penyembuhan. Bumame akan mengulas lengkap tentang kanker usus besar hingga kiat pencegahannya!

Apa Itu Kanker Usus Besar?

Kanker usus besar atau dikenal sebagai kanker kolorektal, adalah jenis kanker yang berkembang dalam usus besar atau rektum. Usus besar, yang terdiri dari kolon dan rektum, merupakan bagian dari sistem pencernaan yang berfungsi untuk menyerap nutrisi dari makanan dan mengeluarkan sisa-sisa yang tidak tercerna.

Kanker usus besar dimulai sebagai pertumbuhan abnormal atau tumor di dinding usus besar. Tumor-tumor ini dapat bersifat jinak (non-kanker) atau ganas (kanker). Tumor ganas memiliki potensi untuk menyebar ke jaringan dan organ di sekitarnya atau ke bagian tubuh lain melalui aliran darah atau sistem getah bening.

Stadium Kanker Usus Besar

Perkembangan sel kanker dalam usus besar dibagi menjadi beberapa tahapan atau dikenal sebagai stadium kanker. Dilansir dari American Cancer Society, inilah pembagian stadium kanker usus besar:

Stadium 0

Pada stadium 0, ditemukan sel-sel abnormal pada mukosa (lapisan terdalam) dinding usus besar. Sel-sel abnormal tersebut bisa berkembang menjadi kanker lalu menyebar ke jaringan normal terdekat. Stadium 0 disebut juga karsinoma in situ.

Stadium 1

Kanker akan terbentuk dalam mukosa usus besar dan menyebar ke jaringan submukosa (lapisan jaringan di sebelah mukosa atau ke lapisan otot dinding usus besar.

Stadium 2

Kanker usus besar stadium 2 dibagi menjadi stadium 2A, 2B, dan 2C.

  • Stadium 2A: Kanker telah tumbuh menembus dinding usus besar atau rektum. Namun, sel kanker belum menyebar ke jaringan terdekat atau ke kelenjar getah bening terdekat
  • Stadium 2B: Kanker telah tumbuh melalui lapisan otot ke lapisan perut yang disebut peritoneum visceral, tetapi belum menyebar ke kelenjar getah bening terdekat atau di tempat lain
  • Stadium 2C: Tumor telah menyebar melalui dinding usus besar atau rektum dan telah tumbuh ke struktur terdekat, tetapi belum menyebar ke kelenjar getah bening terdekat atau di tempat lain

Stadium 3

Kanker usus besar stadium 3 dibagi menjadi stadium 3A, 3B, dan 3C.

  • Stadium 3A: Kanker tumbuh lewat lapisan dalam atau ke dalam lapisan otot usus. Kanker juga telah menyebar ke 1 sampai 3 kelenjar getah bening atau ke nodul sel tumor di jaringan sekitar usus besar atau rektum yang tidak tampak seperti kelenjar getah bening tetapi belum menyebar ke bagian tubuh lainnya
  • Stadium 3B: Kanker telah tumbuh melalui dinding usus atau organ sekitarnya dan menyebar ke 1 sampai 3 kelenjar getah bening atau nodul tumor di jaringan sekitar usus besar atau rektum, tetapi belum menyebar ke bagian lain dari tubuh
  • Stadium 3C: Kanker usus besar, terlepas dari seberapa dalam pertumbuhannya, telah menyebar ke 4 kelenjar getah bening atau lebih tetapi tidak ke bagian tubuh lain yang jauh

Stadium 4

  • Stadium 4A: Kanker telah menyebar ke satu bagian tubuh yang jauh, seperti hati atau paru-paru
  • Stadium 4B: Kanker telah menyebar ke lebih dari 1 bagian tubuh
  • Stadium 4C: Kanker telah menyebar ke peritoneum atau telah menyebar ke situs atau organ lain.

Orang yang Berisiko Mengidap Kanker Usus Besar

Penyebab kanker usus besar bersifat multifaktor. Tidak ada penyebab pasti mengapa sel kanker bisa berkembang tak terkendali di dalam usus besar. Walau penyebabnya tidak diketahui secara pasti, terdapat beberapa orang yang memiliki risiko kanker usus cukup tinggi. Beberapa diantaranya adalah:

  • Berusia di atas 50 tahun
  • Memiliki riwayat polip usus, walaupun polip usus itu sendiri bersifat non kanker
  • Penyakit peradangan kronis pada usus besar, contohnya kolitis ulserativa serta penyakit Crohn
  • Terdapat anggota keluarga dengan riwayat kanker usus besar
  • Jarang berolahraga
  • Sering mengonsumsi makanan berlemak, tetapi jarang mengonsumsi makanan berserat
  • Penderita diabetes dan obesitas
  • Perokok dan orang yang sering minum minuman beralkohol

Gejala Kanker Usus Besar

Kanker usus besar biasanya tidak memiliki gejala khusus apabila masih berada dalam stadium awal. Namun, gejala kanker usus besar yang umum terjadi adalah:

  • Perubahan pola buang air besar
  • BAB berdarah
  • Nyeri perut yang tidak hilang atau kram yang berkepanjangan.
  • Kelelahan yang berlebihan
  • Penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas atau tanpa melakukan perubahan gaya hidup yang signifikan
  • Sensasi tertekan di perut atau perasaan bahwa usus tidak kosong sepenuhnya setelah buang air besar
  • Kurangnya sel darah merah yang sehat dalam tubuh, yang dapat menyebabkan kelelahan, pucat, sesak napas, dan denyut jantung yang tidak teratur

Metode Diagnosis Kanker Usus Besar

Untuk memastikan apakah gejala yang dialami seseorang merupakan kanker usus besar, dibutuhkan sebuah diagnosis mendalam. Beberapa jenis metode yang digunakan untuk mendeteksi kanker usus besar adalah:

1. Kolonoskopi

Kolonoskopi adalah sebuah prosedur di mana dokter menggunakan sebuah tabung lentur yang dilengkapi dengan kamera (kolonoskop) untuk memeriksa seluruh usus besar dan rektum.

2. Sigmoidoskopi

Sigmoidoskopi merupakan jenis pemeriksaan di bagian bawah usus besar. Alat yang digunakan untuk sigmoidoskopi berbentuk tabung tipis dengan kamera dan lampu bernama sigmoidoscope.

3. Biopsi

Biopsi adalah sebuah metode pengambilan sampel jaringan untuk diperiksa di bawah mikroskop. Nantinya dokter akan menentukan apakah ditemukan ketidaknormalan pada sampel jaringan yang diambil. Biopsi dapat dilakukan selama kolonoskopi, atau dapat dilakukan pada jaringan yang diangkat selama operasi.

4. Stool Test

Stool test adalah pemeriksaan yang menggunakan sampel tinja dari seorang suspek. Macam-macam stool test antara lain:

FOBT

Fecal occult blood test (FOBT) berguna untuk mencari adanya darah yang tidak terlihat dalam tinja. Sampel tinja dikumpulkan dan diperiksa di laboratorium. Jika fecal occult blood test menunjukkan adanya darah dalam tinja, pemeriksaan lanjutan lebih lanjut mungkin diperlukan.

FIT-DNA

Fecal immunochemical test (FIT) digunakan untuk mendeteksi hemoglobin yang tidak terlihat dalam sel darah merah di permukaan tinja. Pemeriksaan lewat FIT akan mendeteksi reaksi antigen antibodi yang memiliki spesifisitas terhadap hemoglobin manusia di saluran pencernaan bagian bawah.

COLOTECT™

COLOTECT™ adalah tes kanker kolorektal non-invasif yang mendeteksi kanker usus besar dan diagnosis lesi prakanker. Pemeriksaan COLOTECT™ jauh lebih sensitif dibandingkan Fecal Immunochemical Test (FIT) dan FOBT.

5. CT Scan

Computed Tomography atau CT scan menggunakan sinar-x untuk membuat gambar penampang tubuh secara mendetail. Tes ini dapat membantu mengetahui apakah kanker kolorektal telah menyebar ke kelenjar getah bening terdekat atau ke hati, paru-paru, atau organ lain.

6. MRI

Seperti CT scan, magnetic resonance imaging (MRI) menunjukkan gambar detail dari jaringan lunak dalam tubuh. Namun, scan MRI menggunakan gelombang radio dan magnet yang kuat.

Sebuah zat bernama gadolinium akan disuntikkan ke pembuluh darah sebelum pemindaian MRI. Kemudian, barulah pemindaian akan dilakukan. MRI dapat digunakan untuk melihat area abnormal di hati atau otak dan sumsum tulang belakang yang dapat menjadi tempat penyebaran kanker.

7. PET Scan

Untuk pemindaian PET, bahan khusus bernama radiofarmaka fluorodeoxyglucose (FDG) akan disuntikkan ke dalam darah. Setelah masuk ke dalam tubuh, zat ini akan terkumpul di sel kanker. Akan tetapi, pemeriksaan PET scan cenderung jarang dilakukan jika dibandingkan dengan CT scan dan MRI.

Pengobatan

Untuk mengatasi kanker usus besar, diperlukan berbagai metode yang berguna untuk meminimalisir kemungkinan kanker bertambah parah. Pengobatan yang dapat dilakukan antara lain:

1. Pembedahan

Pada tahap awal, operasi biasanya dilakukan untuk mengangkat tumor dan sekitarnya. Pembedahan dapat meliputi reseksi lokal (pengangkatan tumor beserta jaringan sekitarnya) atau reseksi radikal (pengangkatan sebagian atau seluruh usus besar).

2. Kemoterapi

Penggunaan obat-obatan pada metode kemoterapi dapat membantu menghancurkan sel kanker yang tersisa setelah operasi atau untuk mengendalikan perkembangan kanker pada tahap lanjut.

3. Radioterapi

Terapi radiasi menggunakan sinar x atau partikel energi tinggi untuk menghancurkan sel kanker. Biasanya digunakan sebelum atau setelah operasi atau bersamaan dengan kemoterapi.

4. Imunoterapi

Pendekatan imunoterapi akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk melawan sel kanker. Imunoterapi dapat digunakan pada tahap lanjut atau jika kanker telah kembali setelah pengobatan sebelumnya.

5. Terapi Tertarget

Metode ini melibatkan penggunaan obat-obatan yang dirancang untuk menargetkan sel-sel kanker secara spesifik guna menghambat pertumbuhan dan penyebarannya.

Apakah Kanker Usus Besar Bisa Sembuh?

Setiap orang berbeda-beda dalam merespon pengobatan kanker kolorektal. Dengan perawatan yang cepat dan akurat, kanker usus besar masih bisa disembuhkan.

Meski begitu, ada sebuah kondisi di mana kanker usus besar bisa kambuh setelah operasi atau penyembuhan. Sekitar 30 persen sampai 50 persen orang bisa kambuh pasca operasi kanker usus besar. Maka dari itu, dibutuhkan pemeriksaan intensif pasca penyembuhan untuk memastikan kanker tidak akan kembali lagi.

Cara Mencegah Kanker Usus Besar

Pahami gejala, penyebab, metode diagnosis, pencegahan, hingga pengobatan kanker usus besar.

Cara mencegah kanker usus besar bisa dimulai dengan membentuk kebiasaan sehat dalam keseharianmu, di antaranya:

  1. Konsumsi buah-buahan, sayur, dan gandum utuh yang mengandung banyak vitamin dan serat
  2. Hindari konsumsi alkohol secara berlebihan
  3. Jika kamu adalah seorang perokok, cobalah berhenti merokok
  4. Olahraga rutin supaya berat badan tetap ideal dan stabil
  5. Kurangi konsumsi makanan berlemak tinggi seperti junk food dan gorengan

Melakukan skrining mandiri dapat mengurangi potensi kanker usus besar, lho! Pemeriksaan dini akan membantu penyembuhan kanker dari stadium awal, sehingga keberhasilan pengobatannya pun bisa lebih besar dan bisa ditangani sejak dini.

Bumame menyediakan skrining kanker usus besar menggunakan teknologi COLOTECT™. Pemeriksaan ini bersifat non invasif dan mudah dilakukan. Hasil pemeriksaan bisa kamu dapatkan 3-5 hari kerja setelah pengambilan sampel. Nikmati konsultasi bersama dokter secara gratis sebelum dan sesudah pemeriksaan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *