• February 21, 2024

Jangan Terkecoh, Pahami Perbedaan Tifus dan DBD!

Sebagian dari kalian pasti pernah mendengar mengenai penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan tifus. Kedua penyakit ini sama-sama menyebabkan penderitanya mengalami demam tinggi. Padahal, terdapat perbedaan perbedaan tifus dan DBD yang cukup signifikan, lho!

Apa saja perbedaannya DBD dan tifus? Bumame akan menjeaslakn secara terperinci apa perbedaan di antara kedua penyakit tersebut, mulai dari penyebab sampai proses penyembuhannya!

Penyebab

Baik penyakit demam berdarah dan tifus merupakan penyakit yang cukup umum di Indonesia. Akan tetapi, penyebab DBD dan tifus sangat berbeda. Penyebab utama demam berdarah adalah virus dengue menyebar ke manusia melalui gigitan nyamuk spesies Aedes (Aedes aegypti atau Aedes albopictus) yang terinfeksi.

Sementara tifus disebabkan oleh Salmonella Typhi yang masuk ke tubuh melalui makanan dan sanitasi yang kurang bersih. World Health Organization (WHO) memperkirakan terdapat 11-21 juta orang sakit karena tifus dan sekitar 128,000 hingga 161,000 orang meninggal karenanya setiap tahun.

Pola Demam

Perbedaan gejala tifus dan DBD berikutnya terletak pada pola demam. Biasanya, gejala DBD ditandai demam tinggi yang terjadi secara mendadak atau berlangsung terus-menerus selama 7 hari.
Sementara pada kasus demam dikarenakan tifus, kenaikan suhu akan berlangsung pelan-pelan. Suhu tubuh awalnya normal atau hanya demam rendah, lalu kemudian meningkat hingga 40 derajat celcius.

Diagnosis

Cara diagnosis yang digunakan untuk mendeteksi demam berdarah adalah menggunakan tes NS1, serologi, tes darah lengkap.

Sedangkan untuk mendeteksi tifus, metode yang digunakan adalah tes tubex dan widal test.

Penanganan

Tidak ada pertolongan spesifik atau khusus untuk kasus demam berdarah. Pengobatan yang diberikan hanya untuk mengurangi gejala sampai tubuh kembali sehat sedia kala.

Centers for Disease Control and Prevention menyarankan penderita demam berdarah untuk beristirahat total dengan mengonsumsi parasetamol untuk mengurangi demam. Penggunaan ibuprofen dan aspirin tidak disarankan untuk menurunkan demam dalam kasus DBD.

Setelah demam turun, kondisi pasien tetap harus dipantau sampai beberapa hari kemudian untuk memastikan apakah gejala akan muncul kembali atau tidak. Segera bawa ke rumah sakit lagi untuk menjalani perawatan jika gejala bertambah parah.

Lain halnya dengan tifus yang memiliki penanganan lebih spesifik. Penderita tifus akan mengonsumsi obat antibiotik untuk membasmi bakteri Salmonella Typhi sampai benar-benar hilang dari tubuh. Pasien juga diwajibkan untuk beristirahat total dan mengonsumsi makanan bergizi tinggi supaya cepat pulih.

Komplikasi

Perbedaan tifus dan DBD berikutnya terletak pada komplikasi yang dihasilkan. Demam berdarah yang parah dapat menyebabkan pendarahan internal dan kerusakan organ. Dalam beberapa kasus, demam berdarah yang parah dapat menyebabkan kematian.

Wanita yang terkena demam berdarah selama kehamilan kemungkinan dapat menyebarkan virus ke bayi saat melahirkan. Selain itu, bayi dari ibu hamil yang terkena demam berdarah selama kehamilan memiliki risiko kelahiran prematur dan lahir dengan berat badan rendah.

Komplikasi pada kasus demam tifoid dapat berupa kerusakan dan pendarahan di usus. tifus juga dapat menyebabkan sel-sel pada dinding usus halus atau usus besar mati. Hal ini mengakibatkan isi usus bocor ke dalam tubuh dan menyebabkan sakit perut yang parah, muntah dan infeksi di seluruh tubuh (sepsis).

Sekarang kamu tidak bingung lagi mengenai perbedaan tifus dan DBD, kan? Segera periksakan dirimu apabila mengalami demam tinggi yang kunjung turun bareng Bumame!

Layanan Skrining Demam dari Bumame memiliki standar unggulan. Kamu pun juga bisa melakukan konsultasi terlebih dahulu sebelum pemeriksaan secara gratis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *